Ramainya
itu luar biasa, malah kadang jalan ke stasiun itu macet banget. Apalagi kalau
hari Senin, biasanya lebih macet lagi. Sehingga, kita perlu lebih
‘bersungguh-sungguh berstrategi’ bagaimana agar perjalanan kita tak terkendala.
Terkait
“bersungguh-sungguh berstrategi” tersebut, ada oknum sebagian orang yang
mengatakan bahwa hal itu merupakan ‘hal yang sangat menyeramkan’. Karena, hal
itu merupakan bentuk cinta dunia yang luar biasa. Menurutnya, betapa
mengherankannya orang-orang begitu seriusnya mengejar kehidupan dunia,
seharusnya pagi-pagi gitu dzikir dan baca Al-Qur’an dulu, jangan kerja.
Nah,
apakah pernyataan oknum sebagian orang tersebut benar? Sehingga, implikasinya
kita tidak perlu seperti itu?
Untuk
menjawabnya, tentu awalnya kita harus berangkat dari fakta dulu. Tidak boleh
asal tuduh. Karena asal tuduh itu pertanggungjawabannya berat di Akhirat nanti.
Sebelum
menjustifikasi, harus ketahui fakta aktivitas orang tersebut terlebih dahulu
Bila
memang serius ingin memberikan justifikasi, haruslah kita coba ketahui fakta
orang-orang di stasiun tersebut, mereka mau ke mana? Ada keperluan apa?
Misalnya,
kita dapat beberapa jawaban:
Ada
yang ingin ke Tebet, tempat Kantornya kerja
Ada
yang ingin ke Gambir, tempat Kantornya kerja juga
Ada
yang ingin ke Rumah Sakit, ingin berobat
Ada
yang ingin silaturahim ke Rumah orang tuanya
Ada
yang ingin belanja ke Tanah Abang
Ada
yang ingin menghadiri majelis ta’lim di daerah sekitar Gambir
Ada
yang ingin mengisi pengajian majelis ta’lim di Sawah Besar
Dan
lain-lain..
Nah,
dari fakta tersebut, kita harus ketahui dulu, fakta tersebut hukumnya apa? Yang
namanya hukum perbuatan, pasti berkisar pada 5 hal; wajib, sunnah, mubah,
makruh, haram.
Jadi,
kalau ternyata agendanya merupakan hal-hal halal, tidak haram; maka tidak bisa
dikatakan orang tersebut merupakan cinta dunia. Apalagi kalau agendanya wajib
dan sunnah, sama sekali tak boleh dituduh seperti itu. Justru mereka termasuk
orang yang cinta Akhirat.
Yang
jelas, mereka yang agendanya haram, maka itu jelas bukti cinta dunia. Karena,
orang yang melakukan keharaman tersebut, yakni pelaku maksiat, tidak mempedulikan
pertanggungjawaban dan balasan siksa di Neraka nanti. Dia hanya peduli
keuntungan saat di dunia ini saja.
Selain
itu, perlu hati-hati juga, banyak yang salah paham soal kerja tersebut.. kalau
memang dia kerja dalam rangka untuk menafkahi dirinya, istrinya, dan
anak-anaknya; maka itu merupakan agenda yang bagus. Bisa jadi termasuk urusan
Akhirat. Karena, bagi laki-laki baligh yang mampu, wajib hukumnya mencari
nafkah. Justru, kalau pagi-pagi gitu malah tidur-tiduran, tidak mau menafkahi
keluarganya, maka dia berdosa. Tidur-tiduran gitu justru contoh kongkrit cinta
dunia.
Bahkan,
mohon maaf, kalau sibuk melakukan hal-hal sunnah (mandhub/nafilah), di waktu
yang sama, dia sama sekali tidak mencari nafkah, dia termasuk berdosa juga.
Karena, dia melalaikan yang wajib. Wajib itu kan dikerjakan berpahala,
ditinggalkan berdosa. Sedangkan sunnah, dikerjakan berpahala, ditinggalkan
tidak berdosa. (walau tentu di pembahasan lain, sayang bila dilewatkan)
Begitulah…
Agar
justifikasinya proporsional, harus dibahas dulu hukum dari satu aktivitas per
aktivitas yang ada pada pekerjaan tersebut
Meski
memang, hal tersebut masih bisa dirinci lagi. Misalnya, dari orang-orang yang
sudah jelas mau berangkat kerja ke Kantor tersebut, ternyata ada fakta yang
berbeda-beda:
Ada
yang kerjanya sebagai teknisi
Ada
yang kerjanya sebagai akuntan auditor
Ada
yang kerja di Rumah Potong Hewan
Ada
yang kerjanya sebagai fotografer model wanita
Ada
yang kerjanya jadi customer service Bank
Terkait
kerjaan tersebut, harus dibahas pula apa hukumnya menurut Islam atas fakta
aktivitas pada kerjaan-kerjaan tersebut?
Teknisi,
hukumnya mubah.
Akuntan
pengaudit, mubah juga.
Tukang
potong hewan; kalau memotong hewannya baca basmallah, maka boleh. Kalau tidak
baca basmallah, maka tidak boleh. Pun hewannya harus yang halal; ayam, sapi,
dll. Jangan babi, itu haram.
Fotografer
model wanita; haram kalau wanitanya menampakkan aurat dan tersebar ke banyak
orang yang notabene bukan mahramnya.
Customer
servicer Bank; normalnya haram kalau terlibat sebagai pemberi, seketaris, dan
saksi dari transaksi ribawi.
Jadi,
kalau ternyata agendanya merupakan hal-hal halal, tidak haram; maka tidak bisa
dikatakan orang tersebut merupakan cinta dunia. Apalagi kalau agendanya wajib
dan sunnah, sama sekali tak boleh dituduh seperti itu.
Yang
jelas, mereka yang agendanya haram, maka itu jelas bukti cinta dunia. Karena,
orang yang melakukan keharaman tersebut, yakni pelaku maksiat, tidak
mempedulikan pertanggungjawaban dan balasan siksa di Neraka nanti. Dia hanya
peduli keuntungan saat di dunia ini saja.
Begitulah…
Agar
justifikasi pada seseorang lebih proporsional, bisa juga pekerjaannya dikaitkan
dengan aktivitas lainnya yang agak berhubungan
Meski
memang, fakta orang tersebut masih bisa dirinci lagi, dikaitkan dengan beberapa
aktivitas lainnya yang agak berhubungan. Kalau seperti itu, walau pun pekerjaan
halal dan dalam rangka menjalankan kewajiban menafkahi keluarga, bisa jadi dia
termasuk orang yang cinta dunia juga, bila faktanya:
Dia
semangat kalau berangkat kerja saja, namun suka bahkan selalu meninggalkan
sholat subuh.
Dia
semangat kalau kerja saja, namun ketika diajak ikut pengajian majelis ta’lim
untuk belajar Islam, dia tidak mau menghadirinya. Bahkan tidak mau
bersungguh-sungguh mengusahakannya. Yang lebih parah, tidak ada rasa menyesal
karena mungkin terpaksa sulit ikut kajian.
Dia
semangat kalau kerja saja, namun ketika diajak ikut agenda dakwah, dia tidak
mau ikut. Bahkan, tidak mau bersungguh-sungguh mengusahakannya. Yang lebih
parah, tidak ada rasa menyesal karena mungkin terpaksa sulit ikut agenda
dakwah.
Dia
semangat kerja lebih dari kewajibannya, supaya dapat uang lebih. Namun, uang
lebih itu hanya untuk memenuhi banyak keinginan-keinginannya yang tidak perlu
(bukan kebutuhan); sementara untuk yang butuh, perlu, dan wajib; malah tidak ia
tunaikan (seperti nafkah keluarga, bayar hutang, dll).
Artikel
Lainnya: 6 Penyebab Kenapa Anda Sering
Mengantuk, Padahal Sudah Tidur Cukup
Kalau
seperti itu, bisa jadi di satu sisi dia dapat pahala dan termasuk orang yang
sudah menunaikan kewajiban mencari nafkah. Namun, di sisi lain, dia berdosa
karena ada satu bahkan beberapa kewajiban yang ia tinggalkan. Misalnya
kewajiban sholat, kewajiban belajar Islam, kewajiban berdakwah, dan
kewajiban-kewajiban lainnya.
Bila
dia sengaja memilih kelalaian tersebut, tak ada penyesalan, maka bisa jadi dia
termasuk orang yang cinta dunia.
Kesimpulannya
Nah,
mungkin yang dimaksud oleh seseorang yang menuduh cinta dunia itu adalah
orang-orang yang ada melakukan keharaman dan meninggalkan kewajiban tersebut.
Maka
dari itu, tentu tidak bisa kita generalisir semua yang bergegas keluar Rumah
pagi-pagi itu merupakan orang yang cinta dunia dan lupa Akhirat; mungkin hanya
karena dia meninggalkan hal-hal yang sunnah seperti dzikir pagi, baca
Al-Qur’an, dan sebagainya. Bisa saja dia bergegas karena ingin melakukan hal
yang wajib, atau hal sunnah lainnya.
Nah,
begitulah…
Meskipun
begitu.. memang.. kalau dengan hitungan kasar, bisa jadi mayoritas orang-orang
tersebut memang iya termasuk cinta dunia. Karena, memang desainnya, pada hari
ini masyarakat kita hidup di sistem kapitalisme yang notabene memaksa semua
orang menjadi seperti budak. Baik secara mindset individu, budaya, dan sistemik
terpaksa; mereka rutin setiap waktu berpikir bagaimana agar bisa cari uang,
uang, uang, dan uang… seolah-olah tak sempat belajar Islam, beramal sholeh, dan
berdakwah…
Semoga
saja kita tidak termasuk yang demikian…
Nah,
begitulah… Jawaban terkait pertanyaan, “Apakah pergi kerja pagi-pagi banget itu
termasuk cinta dunia atau tidak?”. Semoga tulisan ini menjawab. Mohon maaf bila
saya salah. Bila bermanfaat, silahkan Anda share ke teman atau saudara Anda.
Wallahua’lam
bishshawab..
